• Glamping di Leuweung Geledegan Ecolodge Bogor

    Sejak tahun 2022 lalu, saya dan suami melakukan tradisi “Anniversary Trip” untuk merayakan hari pernikahan kami. Kalau tahun 2022 lalu saya dan suami trekking di Sentul, maka di tahun 2023 kami memutuskan untuk glamping di Bogor. Yah, sebenernya sih mau ngetrip yang jauhan dikit gitu. Tapi karena satu dan lain hal akhirnya kita pilih glamping aja di Bogor. Pemilihan tempatnya pun baru diputusin H-3 gitu. Tapi untungnya masih bisa reservasi. Dann…di liburan kali ini saya dan suami mengajak Piya. Jadi seru kan. Oke lanjut.

    Kami memutuskan memilih Leuweung Geledegan Ecolodge (LGE) sebagai tempat glamping. LGE ini letaknya di Kp. Tamansari No. 17, Jl. Tamansari, Kecamatan Tamansari, Bogor. Yah, sekitar 1 jam dari rumah kami. Saya melakukan reservasi dengan memilih Lodge A yang memiliki kapasitas untuk 2 orang seharga Rp1.200.000. Harga ini sudah termasuk free breakfast untuk 2 orang dan free permainan ATV.

    Hari Sabtu tanggal 14 Oktober 2023, kami akhirnya berangkat. Tadinya sih rencana mau berangkat jam 10 pagi dari rumah. Tapi yah namanya juga bawa anak kecil, jadinya ngaret deh. Kami akhirnya berangkat dari rumah jam 11 siang dan sampai di Leuweung Geledegan Ecolodge jam 12.30. Kalau dari infonya sih dibilang waktu check in jam 14.00. Tapi kemarin kami datang langsung bisa check in. Kami diberikan kunci, kupon breakfast untuk 2 orang dan kupon permainan ATV untuk 2 orang juga.

    Lodge A

    Setelah check in kami masukin barang dulu ke kamar baru ke restoran untuk makan siang. Lodge A berkapasitas 2 orang dan memiliki luas 9,1 x 3,6 m2. Lodge ini dilengkapi 1 bed besar, 1 bean bag, 1 sofa kecil dan meja kecil, TV dan AC. Kamar mandinya ada 2, terpisah antara WC dan kamar mandinya. Cukuplah untuk keluarga kecil. Perlengkapan yang tersedia di kamar hanya 2 buah handuk mandi dan  botol mineral water. Jadi kayak sikat gigi, teko pemanas tuh tidak ada ya. Cuma kita bisa minta air panas ke restoran sih.

    Ada beberapa tipe tenda di LGE. Selain Lodge A yang berkapasitas 2 orang, ada juga Lodge B yang berkapasitas 5 orang dan Lodge C yang berkapasitas 6 orang. LGE ini juga memiliki area lapangan yang luas yang bisa dipakai aktivitas semacam team building atau outbond.

    Setelah masukin barang, kami kembali lagi ke restoran sekalian bawa perlengkapan renang karena Piya minta berenang. Makanan di restoran LGE cukup bervariasi. Ada nasi liwet, nasi goreng, mie goreng, dan lainnya. Saya memesan nasi liwet, suami saya memesan sup Iga dan Piya memesan ayam goreng. Rasanya enak juga. Rekomendasi saya pesan sup Iganya. Seger deh. Di LGE ini juga ada coffee shop. Jadi kalo kamu enggak mau menginap dan hanya ngopi-ngopi cantik aja boleh kok. Tapi coffee shopnya baru buka jam 10 pagi, ya.

    Kelar makan siang kami langsung menemani Piya berenang. Kolam renang di LGE ini ada 2, kolam renang untuk anak kecil dan kolam renang untuk dewasa. Kolam renang untuk dewasanya juga nggak terlalu dalam kok. Jadi masih aman.

    Kelar berenang kami balik ke kamar untuk mandi dan santai-santai sambil ngerencanain nanti malem mau main api unggun. Di LGE ini memang disediakan api unggun loh. Seru kan malem-malem dingin main api unggun. Tapi rencana tinggal rencana. Tetiba hujan turun deras banget. Seneng sih karena baru dapet hujan lebat. Di jakarta udah lama ngga hujan. Tapi hujannya lama banget jam 18.30 masih aja hujan. Sesekali berhenti sesekali deras lagi. Piya udah merengek kelaparan. Karena di aturan Leuweung ini tidak bisa room service dan kita harus makan di restoran, ya udah deh, jaketan kita bertiga jalan ke restoran.

    Pas sampai restoran ternyata kata masnya bisa room service, loh. Tapi karena kita udah mager balik kamar lagi kita makan di restoran aja. Suami saya pesen nasi goreng, saya berdua Piya pesan mie goreng. Nasi gorengnya enak sih cuma kurang panas. Karena hujan turun lagi kita pindah tempat duduk diatas cafe LGE. Nah disini ada meja biliar mini yang bisa kita pake main. Lumayan sambil nunggu hujan. Oh iya, semua staff di Leuweung ramah-ramah dan helpful. Saya sempat ketinggalan tasnya Piya di lobby dan baru sadar pas udah malem. Sama staffnya disimpenin dan dianterin ke kamar.

    Area api unggun

    Tadinya saya tetep bertahan mau main api unggun. Beberapa kali kebangun ngeliat hujannya udah berhenti belum. Tapi ternyata sampai batas waktu api unggunnya masih hujan deras. Yaudah akhirnya memutuskan untuk tidur karena mau ngejar sunrise besok paginya.

    Saya bangun jam 5 pagi untuk ngejar sunrise. Tapi pas lihat ke luar jendela kok ragu-ragu juga ya, langitnya masih gelap. Jam 5.15 saya jalan ke arah kolam renang (kata staff LGE kalo mau lihat sunrise itu di di kolam renang spotnya). Dan ternyata pemirsa sunrisenya engga ada hiks.

    Taman Burung Mini

    Sehabis sarapan, kami mengeksplor seluruh daerah LGE. LGE ini memiliki taman burung mini dengan koleksi burung dan ayam yang lumayan, bahkan ada burung cendrawasihnya, loh. Nah, kalau minggu pagi, di area kolam renang kita bisa foto-foto sama beberapa burung termasuk burung elang. Gratis, engga bayar, yaa paling kalau mau kita kasih sukarela aja ke petugasnya.

    Taman burung mini

    Secara keseluruhan, glamping di LGE menyenangkan. Apalagi buat warga Jakarta yang jarang dapat pemandangan hijau dan udara yang sejuk. Tertarik? Cek aja instagramnya LGE.

    Habis ini kita kemana lagi yaa…

  • Berwisata ke Faunaland dan Segarra Ancol

    Saya sudah lama tidak mengunjungi Ancol. Terakhir yang saya ingat itu pernah sepedaan pagi-pagi di Ecopark. Tapi lupa tahunnya. Pokoknya sudah lama banget deh.  Nah di Bulan April 2021 lalu saya mencoba “memberanikan diri” berkunjung ke Faunaland Ancol. Alasan saya memilih Faunaland Ancol adalah karena memenuhi kriteria tempat wisata saya selama masa pandemi COVID-19. Pertama tempatnya outdoor dan kedua melihat dari beberapa review yang beredar kayaknya tidak banyak juga orang yang berkunjung kesana. Jadilah saya dan suami mengajak Piya melihat Singa Putih di Faunaland Ancol.

    Ya namanya juga pergi mengajak anak yakan. Rencana mau jalan dari pagi tapi terhalang urusan ini itu. Jadilah kami sampai di Faunaland jam 11 siang dan disambut panas teriknya Ancol. Oh iya kalau mau ke Faunaland atau masuk ke Ancol jangan lupa beli tiketnya secara online dulu ya. Bisa di websitenya Taman Impian Jaya Ancol atau melalui aplikasi seperti Traveloka yang biasanya menawarkan diskon tiket masuk Faunaland. Harga tiket masuk Ancol itu adalah 25.000/orang dan tiket mobil 25.000. Tiket masuk Faunalandnya sendiri adalah sebesar 75.000/orang. Faunaland buka dari jam 9 pagi hingga jam 4 sore. Jadi bisa diatur-atur ya waktunya kalau mau kesini.

    Ademm……

    Faunaland ini adalah semacam kebun binatang mini yang berlokasi di Allianz-Ecopark Taman Impian Jaya Ancol. Berdiri di lahan seluas 5 hektar, Faunaland memiliki koleksi sekitar 109 satwa. Tentu jauh ya kalau dibandingkan dengan Taman Margasatwa Ragunan yang luasnya mencapai 147 hektar dengan koleksi 2.101 satwa. Tapi yang beda Faunaland ini mengusung konsep alam Papua sekaligus memadukan benua Asia dan Australia. Tempatnya teduh. Lumayan sih bisa menahan teriknya Kota Jakarta ya walaupun kegerahannya tidak bisa dibendung sih.

    Faunaland ini berdiri hasil dari cita-cita Danny Gunalen yang merupakan seorang Herpetologi (Herpetologi adalah cabang ilmu zoologi yang mempelajari kehidupan reptilia dan amfibia) kenamaan Indonesia untuk membuat kebun binatang bertema “Timur Indonesia”. Ngomong-ngomong ya, Bapak Danny Gunalen ini berhasil menemukan subspecies baru dari ular gunung yaitu Trimeresurus Gunaleni di tahun 2007. Canggih ya beliau. Oke lanjut ceritanya.

    Setelah menukarkan e-ticket kami langsung masuk Faunaland. Pertama masuk kami dikejutkan oleh suara keras dari si Siamang Albino yang teriak-teriak sambil bergelayutan di kandangnya. Suaranya lumayan menggema ke seluruh area Faunaland. Selain Siamang Albino ini mungkin satwa yang terkenal di Faunaland adalah si Singa Putih. Pengunjung banyak yang mengerubungi kandang si Singa Putih ini. Selain itu ada Kambing Gunung, Keledai Mini dan juga Tapir. Satwa-satwa di Faunaland ini juga terbilang unik-unik.

    Singa Putih Faunaland
    Keledai Mini

    Di Faunaland ini kamu juga bisa mencoba Safari Cruise yaitu naik perahu menyusuri sungai. Tapi atraksi ini sangat ramai peminat. Jadi siap-siap aja antri ya. Buat kamu yang males antri bisa juga mencoba foto bersama burung di Pulau Burung. Seru sih fotonya. Yah bisalah kayak ala ala di Bali Safari Park. Hehehehe. Karena kami membawa anak kecil, tepat jam 12 siang kami melipir ke tempat istirahat yang disediakan. Enak juga santai-santai disini. Adem dan anginnya sepoi-sepoi.

    Sekitar jam 1 siang kami menyudahi kunjungan kami di Faunaland untuk makan siang. Faunaland ini bisa menjadi alternatif tempat wisata di Jakarta. Tempatnya ramah anak dan bisa bawa stroller lagi. Tapi memang untuk satwa satwa yang menjadi primadona seperti Singa Putih kita harus bersabar menunggu kerumunan pengunjung karena kandangnya paling ramai.

    Melipir ke Segarra Ancol

    Kalau lagi ke Ancol rasanya sih pengen mengeksplor semua tempat. Karena di Ancol ini banyak banget atraksi wisatanya jadi sayang banget kalo engga dimanfaatin. Piya anak saya itu belum pernah ke pantai pemirsa. Jadi saya dan suami mau mengenalkan ceile Piya dengan pasir pantai. Ke Ancol dululah ya sebelum ke Bali. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya selepas makan siang kami melipir ke Segarra Ancol.

    Segarra Ancol ini emang dulu sempet heits banget pemirsa. Sempet mendapat julukan Balinya Ancol. Kalau melihat-lihat fotonya sih memang bagus ya. Untungnya pas kami kesana enggak terlalu rame. Mungkin efek pandemi COVID-19 juga kali ya. Kami sampai di Segarra sekitar jam 3 sore. Ternyata tempat duduk yang di outdoor sudah full. Jadi kami dapat tempat duduk indoor. Sempat sedih sih kayak enggak seru gitu duduk di tempat duduk indoor. Tapi akhirnya kami enggak jadi nyesel. Karena makin sore itu anginnya makin kenceng dan dingin. Secara kami bawa balita yakan.

    Di Segarra ini kami enggak ngapa-ngapain sih. Cuma duduk-duduk aja sambil ngajak Piya main pasir. Untungnya si Piya ini engga jijikan anaknya. Pas sepatunya dilepas terus kakinya menginjak pasir dia gak histeris atau gimana. Ah bagus nak, itu baru anak Ibu. Hehehehehe. Tapi agak sedikit kecewa sih. Pantainya kurang bersih. Ada sampah-sampah gitu. Enggak lama sih si Piya main di pantainya. Habis itu dia langsung saya pindahin main di lapangan rumputnya Segarra. Yah lumayanlah ya nongkrong di Segarra Ancol ini. Sekitar jam 7 malam kami akhirnya pulang meninggalkan Ancol yang entah kapan kami datangi lagi.

    Cita-cita saya ingin mengajak Piya ke Sea World Ancol. Tapi nantilah ya setelah COVID-19 ini menghilang. Oh iya, kamu ada rekomendasi tempat wisata outdoor yang ramah anak kecil? Mau dong.  

  • Berkunjung ke Scientia Square Park BSD

    Siapa bunda-bunda disini yang selama pandemi Covid-19 anaknya tidak keluar rumah sama sekali? Saya juga bun. Mulai dari awal tahun 2020 saya tidak pernah bawa anak keluar rumah sama sekali. Apalagi ke mal. Ya ampun bun parno banget. Tapi lama-lama kok saya jadi kasihan sama Piya, anak semata wayang saya, Cuma main di halaman rumah doang. Malah jadinya kebanyakan nonton TV. Akhirnya di Bulan November 2020 saya memberanikan diri membawa Piya keluar rumah buat jalan-jalan. Pilihan tempatnya adalah Scientia Square Park, BSD.

    Karena masih parno-parno gimana gitu, akhirnya saya pilih berangkat di Hari Jumat. Takut banget kalau weekend rame, yekan. Dari Cibubur ke Scientia Square Park memakan waktu hampir satu jam. Kita sampai di Scientia Park sekitar jam 11 siang. Biasa ya bun kalo bawa anak. Niat hati berangkat pagi apa daya kerempongan melanda. Pas kita sampe Scientia Parknya lumayan sepi. Paling terhitung cuma ada 3 keluarga saja termasuk kami. Scientia Square Park ini bukanya mulai jam 08.00 pagi hingga jam 19.00 di hari biasa dan kalau weekend dan hari libur nasional buka dari jam 07.00 – 19.00. Setelah membayar tiket masuk sebesar 35.000/orang (sekarang tiketnya udah 45.000) mulailah keluarga cemara kami mengeksplor Scientia Park.

    Foto-foto di Skate Park

    Pertama masuk kita langsung disambut area bermain skateboard yang lumayan luas. Mungkin kalau anak bunda sudah bisa main sepatu roda atau skateboard bisa bermain disini. Cuma karena Piya masih kecil area ini kita skip dan cuma uma foto-foto saja. Pas kita datang cuaca sudah mulai mendung-mendung gitu. Enak sih jadi tidak panas, tapi jadi deg-degan juga takut hujan. Area Scientia Square Park ini sejuk sih. Banyak pohon dan hijau-hijau. Jadi seger.

    Kolam Ikan Koi

    Pemberhentian kedua kami adalah kolam ikan. Disini ada 4 kolam Ikan Koi yang lumayan besar dan ikannya ginuk ginuk. Karena Piya suka banget melihat ikan jadilah disini kita lumayan lama. Oh iya, kita bisa kasih makan ikannya loh, bun. Tinggal beli makanan ikannya seharga 10.000. Lagi asyik-asyik memberi makan ikan tiba-tiba hujan deras. Melipirlah kita ke satu tempat berteduh sekalian Piya makan siang disini. Tidak banyak tempat berteduh di Scientia Park ini. Jadi kalau musim hujan mungkin akan sedikit repot ya.

    Memberi makan Kelinci di Rabbit Farm

    Setelah hujan reda kami lanjut ke kandang Kelinci. Piya baru pertama kali melihat Kelinci, jadi dia excited banget. Kita membeli wortel buat makanan Kelincinya seharga 10.000. Sibuklah dia ngejar-ngejar dan kasih makan Kelinci. Kandang Kelincinya lumayan besar juga, jadi puaslah dia main-main di kandang kelinci.

    Puas main kelinci Bapak sama Ibu udah lapar dan butuh asupan.  Kami makan siang dan bersantai sejenak di café kecil di dalam Scientia Park. Untungnya kafenya lagi sepi, cuma ada beberapa oma-oma yang lagi perayaan ultah gitu. Nah di sebelah kafe ini ada semacam water park. Cuma waktu kita kesana lagi tidak dinyalakan. Jadilah Piya cuma main-main saja sama bapaknya. Kelar makan dan istirahat, kita mulai jalan lagi. Nah makin sore makin banyak pengunjung yang datang. Pas kita mau ke Teepee Barn ternyata udah rame banget. Karena keparnoan ibu sama kerumunan, akhirnya si Piya cuma digendong diajak bapaknya lihat Alpaca dan teman-temannya. Sayang sih padahal di Teepee Barn ini tuh ada pasirnya. Pasti seru kalo main disini.

    Alpaca, sang seleb di Scientia Park
    Teepee Barn
    Melihat Kura-Kura di Turtle Island

    Di Teepee Barn ini juga ada kandang kudanya. Tapi kita enggak sempet masuk sih. Oh iya kalau kesini jangan lupa foto-foto di jalan setapak yang kanan kirinya pohon bambu ya. Lumayan instagrammable, bunda. Jadi ya, area Scientia Square Park ini memang tidak terlalu luas. Jadi kalau pengunjungnya ramai pasti tidak nyaman buat eksplor disini. Nah waktu saya kesini makin sore makin ramai. Mau jalan saja susah. Jadi sekitar jam 3 sore kita udah pulang. Sebelum pulang kita sempet keliling lagi. Disini ada Petopia, spot buat bermain untung anjing kesayangan. Terus ada juga Butterfly Farm dan Turtle Island. Mau lihat sawah di tengah kota? Nah si Scientia Park ini ada loh.

    Secara keseluruhan Scientia Square Park ini bisa jadi salah satu pilihan wisata outdoor anak-anak untuk mendapatkan pengalaman baru seperti bermain di sawah atau melihat Alpaca, hewan khas Pegunungan Andes di Amerika Selatan. Mau foto-foto juga banyak spot menarik disini. Cuma karena areanya tidak terlalu luas saya sarankan kalau mau kesini Bunda datang di hari biasa saja ya supaya lebih nyaman mengeksplor. Jangan lupa masker selalu dipakai dan peralatan perang seperti Hand Sanitizer, Tissue basah dan teman-temannya dibawa dan yang terakhir selalu ikuti protokol kesehatan ya, bun.

  • Da Nang Selayang Pandang

    Setelah 7 tahun berselang, akhirnya saya kembali ke Vietnam. Kalau 7 tahun yang lalu saya mengunjungi Sa Pa dan Halong Bay yang dekat dengan Kota Hanoi, kali ini saya mengunjungi Kota Da Nang. Jadi ceritanya, di Bulan Januari 2020 lalu saya dapet trip gratis 3 hari 2 malam ke Vietnam. Mantep deh pokoknya. Sebelum saya lanjutin ceritanya, saya mau ngucapin terima kasih dulu buat kantor saya. Terima kasih ya! 🙂

    Oke lanjut. Menuju ke Kota Da Nang, saya menggunakan maskapai Vietnam Airlines, berangkat dari Jakarta jam 14.30 sore, transit dulu di Kota Ho Chi Minh baru lanjut ke Kota Da Nang. Mungkin karena waktu itu menjelang Imlek, jadi di Bandara Ho Chi Minh dan Da Nang orang-orang pada tumplek blek. Oiya, ada sedikit tips buat kamu yang mau berkunjung ke Vietnam. Kamu harus pake sepatu yang gampang di lepas pasang. Soalnya pas security check in di bandara lokal nanti kamu disuruh buka sepatu dulu. Jangan lupa pakai kaos kaki yang bersih dan wangi ya demi kenyamanan bersama. Hehehehe.

    Da Nang International Airport

    Sampai di Kota Da Nang sudah malam banget. Kami tiba di hotel sudah hampir jam 12 malam. Toko-toko sudah pada tutup. Sudah capek juga sebenarnya. Hanya perut laparlah yang bisa menggerakkan kaki saya keluar dari hotel, naik taksi ke Son Tra Night Market. Ya namanya juga sudah malam yah. Sampai di sana pedagangnya sudah pada bebenah mau tutup. Sebenarnya di depan pintu masuk Son Tra Night Market ada yang masih buka sih. Jualan seafood gitu. Cuma kok kurang selera. Ya udah lanjut jalan lagi.

    Son Tra Night Market

    Seperti kata pepatah, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Berjalan-jalan dahulu, dapat makanan kemudian. Tepat di ujung Son Tra Night Market itu ada satu pedagang Vietnam Pho Noddle yang masih buka. Langsunglah kita serbu. Modal nunjuk gambar menu saja dapatlah Pho enak dengan porsi lumayan besar. Aslinya sih enggak segampang itu mesen makanannya. Jadi karena kita datang rombongan, pesenannya beda-beda terus yang jual enggak bisa Bahasa Inggris, jadi deh ricuh. Hahahahaha. Yang lucu pas kita sudah selesai makan, si ibu penjualnya nagihin kita sambil ngomong “mone….mone”. Maksudnya money kali yah. Hihihihihi.

    Mbak mone mone 🙂
    Pho lezat mbak mone

    Sayang saya enggak sempet eksplor semua makanan di Son Tra Night Market. Son Tra Night Market bisa jadi salah satu alternatif tempat makan malam kalo kamu sedang berkunjung di Kota Da Nang.

    Di Da Nang, saya menginap di Salem Riverside Hotel. Hotel ini persis ada di tepi Sungai Han. Kebiasaan saya kalau lagi jalan-jalan emang pasti enggak kenal capek. Eksplor terus kerjaannya. Jadi habis sarapan di hotel saya jalan-jalan di tepi Sungai Han ini dan juga melihat-lihat toko dan bangunan-bangunan di kanan kiri hotel saya. Oh iya, kayaknya kalo di Da Nang itu kamu harus hati-hati menyeberang jalan deh. Soalnya waktu saya menyeberang lumayan ngeri juga sama motor-motor dan mobil yang lewat. Remnya blong semua kayaknya.

    Han River di Pagi Hari
    Tempat makan Banh Mi
    Warga +62 jalan-jalan

    Sungai Han ini kayaknya lebih enak dinikmati pada malam hari. Di malam hari kamu bisa naik cruise menyusuri Sungai Han. Kalau berminat kamu bisa cek disini. Mungkin kalau saya balik lagi ke Da Nang saya mau juga mencoba cruisenya deh.

    Selain menyusuri Sungai Han, kamu juga bisa menikmati Dragon Bridge. Jembatan sepanjang 666 meter ini merupakan jembatan terpanjang di Vietnam. Golden Bridge dibangun untuk memperingati 38 tahun Kota Da Nang. Jembatan ini berbentuk naga karena menurut kepercayaan lokal naga berarti kekuatan dan keberuntungan. Kalau malam, jembatan ini dihiasi lampu warna-warni yang cantik. Waktu yang paling tepat untuk melihat Dragon Bridge ini adalah saat akhir pekan sekitar jam 21.00 karena naganya seolah-olah akan mengeluarkan api. Kamu bisa menikmati Golden Bridge sambil ngopi-ngopi karena ada pedagang makanan di sepanjang jalannya.

    Dragon Bridge

    Buat warga +62 tidak lengkap rasanya kalau belum belanja oleh-oleh. Nah di Dan Nang ini ada pasar untuk beli oleh-oleh namanya Han Market. Han Market terdiri dari 2 lantai. Lantai bawah lebih banyak penjual makanan dan lantai 2 itu untuk penjual souvenir vietnam seperti dompet, tas dan banyak lagi. Hati-hati jangan sampe kalap nanti kopernya enggak muat. Selain di Han Market kamu juga bisa ke minimarket lokal untuk membeli oleh-oleh makanan. Tapi jangan sampai salah beli soalnya banyak juga makanan Korea yang dijual di minimarket Vietnam. Annyeong Haseo.

    Sebenarnya daya tarik utama Kota Da Nang itu ada di obyek wisatanya yang bernama Sun World Ba Na Hills. Tungguin ya cerita saya berkunjung ke Sun World Ba Na Hills

  • Belajar Masak di ABC Cooking Studio

    ABC Cooking Studio

    Kalau kamu jarang atau engga pernah masak kayak saya lalu pengen nyoba-nyoba belajar masak, kamu bisa ikut kursus masak di ABC Cooking Studio. Kursus memasak yang berasal dari Jepang ini pertama kali membuka outletnya di Indonesia itu di Mal Central Park Bulan Mei 2018 dan kemudian di Mal Senayan City Bulan Agustus 2018. Yang seru dari ABC Cooking Studio ini adalah mereka punya Trial Class. Nah, Trial Class ini cocok buat kamu yang pengen nyoba-nyoba dulu sebelum kursus masak beneran.

    Di Bulan Desember 2019 lalu, saya ikutan Trial Classnya ABC Cooking Studio di Mal Senayan City. Cara daftarnya gampang banget. Kamu tinggal telepon atau juga bisa booking online. (Psstt…booking online lebih murah loh dari harga normalnya. Kalau booking online kita cukup membayar IDR350.000, tapi kalau harga normalnya IDR450.000). Sesudah booking online, kamu nanti dapet jadwal dan jam ikutan trial classnya. Jangan sampai terlambat yah.

    Trial Class ABC Cooking Studio punya menu standar yang bisa dicoba yaitu Gateau au Chocolat, Chicken Ham Mayonnaise Bread and Cinnamon Roll dan Japanese Beef Hamburg Steak and Onion Soup. Saya memilih menu Gateau au Chocolat.

    WhatsApp Image 2020-01-21 at 12.58.22

    Di Hari dan jam yang ditentukan, datanglah kami untuk mengikuti Trial Class. Sesudah menyimpan barang-barang di loker yang disediakan dan memakai apron yang juga sudah disediakan, kami menempati meja masing-masing. Satu meja isinya 4 orang peserta dengan 1 instruktur. Di Trial Class ini kamu nggak usah pusing. Semua bahan-bahan memasak yang sudah sesuai ukurannya dan juga alat-alat memasaknya sudah disediakan. Jadi kamu tinggal lihat resepnya dan ikutin instruksinya aja deh.

    ABC 3

    ABC 4

    Bikin Gateau au Chocolat cukup gampang buat diikuti. Apalagi semua bahannya sudah ada tinggal kita campur-campur. Buat peserta yang pertama kali bikin kue kayak saya, banyak juga tips-tips dari instrukturnya yang bisa dipraktekin di kemudian hari, loh. Total 2 jam waktu yang diberikan untuk membuat Gateau au Chocolat.  Setelah adonan masuk oven, kita bisa menunggu di ruang tunggu yang disediakan. Kita bisa mengobrol dan disediakan juga minuman.

    ABC 5

    ABC 6

    Nah, Enaknya di Trial Class ini, kue yang sudah jadi bisa kita bawa pulang. Lumayan, kan bisa dicicipi sama suami dan keluarga di rumah. Secara keseluruhan Trial Class ini seru banget buat kamu yang mau nyoba kursus masak atau yang mau nyoba belajar masak. Tapi sayangnya kita cuma bisa ikutan Trial Class ini satu kali saja. Kalo mau kamu bisa langsung kursus masak benerannya aja sih.

    ABC 7

  • Mencari Dewi Anjarwati di Coban Rondo

    Coban Rondo 1

    Dewi Anjarwati sangat bahagia. Akhirnya dia menikah dengan pria pujaan hatinya, Raden Baron Kusumo. Walaupun usia pernikahan mereka belum selapan, Dewi Anjarwati dan Raden Baron Kusumo nekat bepergian. Sebenarnya orang tua Dewi Anjarwati sudah melarang mereka pergi karena menurut adat Jawa, jika pengantin bepergian sebelum selapan maka akan membawa kesialan.

    Dan benar, di tengah perjalanan muncul Joko Lelono yang terpikat oleh kecantikan Dewi Anjarwati dan ingin merebutnya dari Raden Baron Kusumo. Sebelum bertempur dengan Joko Lelono, Raden Baron Kusumo berpesan kepada pengawalnya agar menyembunyikan Dewi Anjarwati di Coban (air terjun). Baik Raden Baron Kusumo maupun Joko Lelono tewas pada pertempuran tersebut. Dewi Anjarwati yang bersembunyi di air terjun menjadi janda (Rondo). Kemudian air terjun tempat Dewi Anjarwati bersembunyi disebut dengan nama Coban Rondo.

    Coban Rondo 2

    Ini adalah kali kedua saya mengunjungi Coban Rondo. Pertama kali ke Coban Rondo adalah di tahun 2010. Waktu itu cuaca kurang bagus sehingga saya tidak bisa menikmati Coban Rondo dengan baik. Nah, di awal Bulan Maret lalu saya dan suami saya berkunjung ke Coban Rondo. Sedikit tips, kalau kamu ingin mengunjungi Coban Rondo, maka waktu terbaik adalah di pagi hari. Suasana masih sejuk dan belum banyak pengunjung yang datang sehingga bisa leluasa meng-eksplor Coban Rondo dan mengambil foto tanpa gangguan. Males aja kan kalo lagi foto air terjun tiba-tiba ada kepala orang nongol? :P.

    Coban Rondo 3

    Coban Rondo adalah tempat wisata yang sudah dirawat dan dikelola dengan baik oleh pemerintah. Bersih dan asri. Ketika memasuki gerbangnya saja kamu sudah disambut dengan taman-taman yang tertata rapi. Cukup mudah untuk mencapai Coban Rondo, jadi kamu bisa mengajak anak kecil atau orang tuamu ke sini.

    Coban Rondo 4

    Kamu tidak akan kecewa melihat air terjun Coba Rondo. Air terjun Coban Rondo tingginya sekitar 84 meter dengan debit air yang sangat deras. Melihat air terjun menghempas batu dengan deras pasti bikin seger, deh. Kalau kamu sedikit mendekat ke air terjunnya, kamu bisa terkena cipratan airnya. Lumayan buat ngilangin capek dan ngantuk.

    Tapi nih, kalau cuaca sedang tidak baik, pengunjung akan dilarang mendekati air terjun karena berbahaya. Untungnya pagi itu cuaca bersahabat, jadinya saya dan suami bebas menjelajah seluruh daerah Coban Rondo ini.

    Coban Rondo 5

    Jika dibandingkan dengan kunjungan saya di tahun 2010, Coban Rondo telah banyak bersolek. Sekarang banyak spot-spot untuk berfoto selfie kekinian. Ada flying fox-nya loh. Coban Rondo kini bahkan memiliki area wisata sendiri. Kamu bisa mencoba wisata labirin, naik kuda, atau sekedar mencoba spot foto instagramable yang tersebar di area wisata Coban Rondo. Berkemah atau melakukan kegiatan outbond? bisa banget. Nyobain nginep di resortnya kayaknya lucu juga ya.

    Coban Rondo 6

    Saya sangat merekomendasikan Coban Rondo sebagai destinasi wajib kalau kamu berkunjung ke Kota Malang. Tapi datengnya pagi-pagi yaaa…..

     

  • Mengenal Mandalika, Wisata Andalan Baru Lombok

     

    Mandalika 1

    Sumber : blog.traveloka.com

    Jadi, sejak beberapa waktu yang lalu, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pariwisata gencar membangun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. Kawasan yang terletak di selatan Pulau Lombok ini masuk kategori KEK Pariwisata melalui Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2014 dan akan dikembangkan bersama antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah untuk mewujudkan lokasi wisata andalan Indonesia yang berkelas internasional.

    Destinasi Wisata Bahari di Indonesia

    Kamu pasti sudah tau kalau Lombok memiliki banyak tempat wisata bahari yang luar biasa cantik. Nah, kawasan Mandalika ini adalah salah satu yang spesial dengan beberapa pantai yang berpasir putih dan air laut nan amat jernih. Kecantikan alam di Mandalika kini sedang dalam tahap pembangunan dengan konsep pengembangan pariwisata berwawasan lingkungan yang berorientasi pada kelestarian nilai dan kualitas lingkungan hidup.

    Mandalika 3

    Sumber : steemkr.com

    Soal pemandangan alam Mandalika, keindahannya sudah tak perlu diragukan lagi. Hamparan bukit dengan rerumputan bak di kawasan Nusa Tenggara Timur ada di sini. Lengkap dengan beberapa pantai cantik dan desa adat yang menawan.

    Setelah selesai dibangun nantinya, KEK Mandalika diharapkan jadi destinasi wisata bahari di Indonesia. Jadi wisatawan tidak hanya melulu ke Bali, tapi juga bisa menikmati pemandangan yang sama indahnya di Lombok Selatan.

    Destinasi Wisata Andalan di KEK Mandalika

    Dengan luas area yang mencapai 1.034 hektar, ada banyak tempat wisata yang menjadi andalan KEK Mandalika. Saat ini, yang paling banyak dikunjungi wisatawan adalah Pantai Kuta yang pemandangannya sama cantik dengan Kuta yang ada di Bali.

    Selain itu juga ada Bukit Merese dengan padang savanna luas dan pemandangan laut memukau. Destinasi lain yang juga jadi tujuan wisatawan adalah Tanjung Aan dengan ombaknya yang menantang buat para peselancar dan juga punya spot menarik untuk diving.

    Tak hanya itu, kawasan Mandalika juga memiliki desa-desa adat seperti Desa Adat Sade dan Desa Adat Ende yang dihuni oleh masyarakat Sasak. Di desa-desa adat ini, kamu bisa melihat rumah-rumah dengan bangunan tradisional dan juga makanan khas Lombok yang unik, seperti plecing kangkung, sayur jantung pisang dan ayam taliwang nan lezat.

    Baca juga : Senja di Samalona

    Pembangunan Yang Terus Berjalan

    Pemerintah Indonesia tidak berjalan sendiri untuk membangun KEK Mandalika. Ada beberapa investor yang ikut membangun kawasan ini bersama-sama dengan Pemerintah Pusat, dan Pemerintah Daerah mendukung dengan kemudahan izin dan juga pembangunan infrastuktur untuk menuju Mandalika.

    Infrastruktur yang terus dikebut penyelesaiannya adalah jalan raya yang menjadi akses utama untuk menuju Mandalika. Selain itu rencananya juga akan dibangun gedung perkantoran, hotel, resort, lapangan golf dan Bendungan Mujur.

    Mandalika 4

    Sumber : lampungpro.co.id

    Menuju Mandalika, Gampang Banget!

    KEK Mandalika hanya berjarak sekitar 18 kilometer dari Bandara Udara Internasional Praya. Engga usah kuatir, sekarang udah banyak banget maskapai yang melayani penerbangan ke Lombok, termasuk pesawat Nam Air yang punya banyak rute dari dan menuju Lombok.

    Dengan pesawat Nam Air, liburan ke Mandalika jadi lebih mudah dan murah. Maskapai ini dikenal dengan harga tiketnya yang terjangkau, namun dengan pelayanan yang amat memuaskan. Kalo engga mau susah, Langsung aja buka aplikasi Traveloka kamu dan pesen tiket Nam Air ke Lombok. Gampang banget, kok.

    Dengan berbagai infrasturktur yang memadai untuk menuju Mandalika, nggak heran kalau kawasan ini sekarang semakin ramai oleh wisatawan. Liburan ke Lombok yuk, eksplore Mandalika yang cantik!

  • Selamat Hari Raya Nyepi
  • Ketika Bhisma Gugur di Gedung Bharata

    Wayang Orang Bharata 1

    Mari mengintip Wayang Orang Bharata. Dari mulai melihat sesi latihan, menyelinap di ruang ganti pakaian hingga menyaksikan saat-saat terakhir gugurnya Resi Bhisma.

    Hanya kenekatan dan keingintahuan yang besar yang membuat saya, orang Bali asli yang lahir dan besar di Jakarta, mengunjungi dan menyaksikan pertunjukan Wayang Orang Bharata yang menggunakan Bahasa Jawa. Keingintahuan yang besar itu pulalah yang membuat saya menenggelamkan diri dalam kesibukan lalu lintas Pasar Senen di Sabtu sore yang panas. Gedung Bharata tidak begitu mencolok jika dibandingkan dengan gedung lain yang berjejer di kanan kirinya. Hanya sebuah tulisan Bharata yang cukup besar di depannya dan juga sebuah papan tulis yang bertuliskan lakon pertunjukan yang membedakannya dengan yang lain. Masuk ke dalam, saya sudah dibawa dengan suasana pewayangan dengan sebuah lukisan timbul besar yang menggambarkan anggota Pandawa Lima dalam cerita Mahabrata. Beberapa foto tentang pemetasan dan juga para awak Wayang Orang Bharata dipamerkan di dinding lobby.

    Saya yang tidak punya bayangan sama sekali tentang Wayang Orang Bharata, mulai mendapat pencerahan sewaktu masuk ke dalam gedung dan melihat seluruh personil Wayang Orang Bharata latihan menjelang pementasan. Tua, muda, pria ataupun wanita, nampak asyik berlatih sesuai perannya masing-masing. Salah satu yang menjadi kekaguman saya adalah betapa luwesnya mereka menari dan olah gerak. Lebih kagum lagi waktu saya tahu bahwa pementasan Wayang Orang Bharata tidak memakai skenario. Para pemain bebas berimprovisasi asal masih sesuai dengan jalan cerita yang sudah ditetapkan.

    Wayang Orang Bharata 2

    Wayang Orang merupakan seni pertunjukan yang terlengkap. Selain terdapat tari-tarian, Wayang Orang juga diisi dengan tembang atau nyanyian dan juga alat musik gamelan yang paling lengkap. Hal tersebut juga yang menyebabkan pemain Wayang Orang Bharata harus memiliki syarat khusus yaitu bisa menari Jawa, bisa menembang, dapat menghapal perannya dan mengerti jalan cerita dengan baik. Cerita-cerita yang dimainkan di Wayang Orang Bharata biasanya merupakan potongan dari cerita epik Mahabrata atau Ramayana. Hanya sesekali saja mereka memainkan cerita lain yang masih berhubungan dengan cerita kehidupan manusia sekarang ini.

    Sambil melihat para pemain Wayang Orang Bharata latihan, saya menyempatkan diri melihat tempat pertunjukan secara keseluruhan. Panggung tempat Wayang Orang pentas, memiliki beberapa sekat untuk tiap adegan yang dimainkan. Diatasnya terdapat running text untuk memberikan rangkuman adegan dalam bahasa Indonesia. Wah, untung ada running text Bahasa Indonesia, ya. Jadi untuk yang tidak mengerti Bahasa Jawa seperti saya tidak perlu khawatir menonton Wayang Orang Bharata.

    Di bawah panggung terdapat tempat untuk para pemain gamelan beserta alat-alatnya yang super lengkap. Dalang dan juga empat orang sinden menempati tempat ini. Tempat para pemain gamelan dan sinden hanya dibatasi oleh pagar pembatas dengan tempat duduk VIP yang terdepan. Gedung Bharata juga memiliki balkon bagi para penonton yang membeli karcis dengan harga lebih murah. Puas melihat-lihat gedung pertunjukan Bharata, saatnya mengintip para pemain menyiapkan diri untuk pementasan.

    Wayang Orang Bharata 3

    Ruang ganti pemain Wayang Orang Bharata terdapat di lantai dua. Disini ada beberapa kamar yang dilengkapi dengan kaca rias dalam berbagai ukuran. Saya mengintip aktivitas di kamar ganti wanita. Semua pemain sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang sedang memulas bedak, ada yang sedang membuat alis, ada yang memoles lipstick. Semua dilakukan sendiri. Memang, salah satu ‘keahlian’ yang harus dimiliki oleh semua pemain Wayang Orang Bharata, baik lelaki atau perempuan adalah bisa merias wajah dan memakai kostum sendiri. Tidak ada juru rias ataupun pengarah kostum yang membantu. Makanya tidak heran jika para lelaki pemain Wayang Orang Bharata pintar memoles make up. Urusan make up ini tidak kalah penting karena make up harus bisa mendukung karakter dari si pemain. Senangnya melihat keakraban para pemain mengobrol dan becanda sambil memoles make up.

    Wayang Orang Bharata 4

    Bhisma pun Gugur

    Jam sudah menunjukkan pukul 20.30 WIB. Para penonton sudah mulai memasuki ruang pertunjukan Wayang Orang Bharata. Layar pun dibuka. Adegan pertama lakon Bhisma Gugur adalah ketika Prabu Duryudana beserta Kurawa dan Patih Sengkuni sedang berpesta pora merayakan kemenangan atas gugurnya Resi Seto dan kedua saudaranya Utara dan Wratsangka di tangan Resi Bhisma. Para pemain sangat menghayati perannya masing-masing. Tiga penari tampil dan menari dengan luwesnya. Disinilah “perjuangan” saya dimulai. Dialog yang dimainkan oleh Wayang Orang Bharata semuanya menggunakan Bahasa Jawa. Saya berusaha memahami cerita dari ringkasan cerita di running text dan dari bahasa tubuh para pemain.

    Singkat cerita, Prabu Duryodana memerintahkan kepada raja sekutunya untuk menggempur barisan Pandawa. Disinilah terjadi pertempuran antara Putra Pandawa dan pasukan sekutu Kurawa. Boleh dibilang, adegan favorit saya di Lakon Bhisma Gugur adalah adegan peperangan. Pemain WO Bharata memainkan adegan pertempuran dengan sangat baik. Ditambah iringan musik gamelan yang menghentak dan adegan pemain yang terkadang benar-benar terjatuh menjadikan semua adegan pertempuran di Lakon Bhisma Gugur ini menjadi sangat seru.

    Wayang Orang Bharata 5

    Ada hal unik dalam pertunjukan Wayang Orang Bharata. Jika kita biasanya menonton film di bioskop dan membawa makanan ringan atau popcorn, nah selama menyaksikan pertunjukan Wayang Orang Bharata pun kita bebas membawa dan memesan makanan. Tidak tanggung-tanggung, makanan yang dipesan pun terdiri atas nasi goreng dan mie goreng. Penonton pun bebas memesan makanan langsung kepada para pedagang yang sesekali berseliweran ke dalam gedung untuk mengantarkan makanan.

    Semua adegan di Lakon Bhisma Gugur dimainkan dengan apik oleh para pemain Wayang Orang Bharata. Tiga jam pertunjukan yang selesai pada tengah malam ini memberikan banyak pengetahuan buat saya. Wayang Orang Bharata memang memberikan banyak sekali gambaran kehidupan dan sopan santun dalam setiap pertunjukannya. Satu hal yang sudah banyak dilupakan di masa sekarang. Contohnya adalah bagaimana kita sebagai orang muda harus hormat dan berperilaku santun kepada orang yang lebih tua. Hal ini ditunjukan dalam adegan ketika para Pandawa harus berhadapan dengan Resi Bhisma yang merupakan paman mereka. Mereka tetap hormat dan menolak bertempur melawan pamannya sendiri.

    Wayang Orang Bharata terus berusaha eksis untuk melestarikan budaya Indonesia, khususnya Budaya Jawa. Pak Marsam, pimpinan Wayang orang Bharata menitipkan harapan agar orang muda Indonesia dapat mengenal dan mencintai budaya Indonesia. Caranya? Mulai yuk dengan menonton Wayang Orang Bharata setiap Sabtu malam.

    *Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Liburan edisi Bulan April 2011

     

  • Window Seat, Please.

    Sunrise

    Kamu kalau naik pesawat lebih suka duduk di gang, di tengah atau di jendela?. Saya paling suka duduk di jendela. Temen-temen yang suka jalan bareng sama saya udah tau banget kesukaan saya ini. Kadang malah mereka suka kasih tempat duduknya di jendela. Menurut saya, kursi di jendela merupakan tempat terbaik. Selain karena kalau mau tidur lebih enak (kepala bisa disenderin ke jendela) dan bisa bengong gak jelas ngeliat ke luar jendela (daripada duduk di tengah cuma bisa ngeliatin kursi depan), alasan utama saya memilih kursi di jendela adalah karena bisa melihat pemandangan yang bagus.

    City

    Kalau waktu penerbangannya pas, saya suka dapet pemandangan sunrise dan sunset. Ciamik banget kan tuh ya liat sunrise atau sunset dari pesawat. Awan putih plus langit biru juga bagus buat di foto. belum lagi kalo bisa liat gunung di bawah dengan jelas. Saya lebih sering motret pake handphone kalau lagi di pesawat. Suka males juga sih ngambil kamera dari tas. Tapi sudah di setting airplane mode tentunya 🙂

    Mountain

    Trus yah, saya paling seneng kalau dapet jendela pesawat yang bersih. Garuda Indonesia, Citilink sama Batik Air itu jendelanya umunya lumayan bersih. Tapi saya suka ngelapin jendela juga sih pake tissue kalau kebetulan dapet jendela yang kotor. Yes, seniat itu. Hahahahaha.

    Saya punya pengalaman seru videoin petir dari jendela pesawat. Waktu itu saya sedang dalam perjalanan pulang dari Bali ke Jakarta. Awal-awal perjalanan sih masih mulus. Tapi lama-lama perjalanannya mulai goyang. Sebenernya waktu itu saya udah mulai bosen memandang ke luar karena sudah mulai gelap dan cuma ada awan-awan gitu. Tapi trus saya liat ada cahaya-cahaya. Mulailah saya konsen ngeliatinnya. Setelah 2 kali ngeliat ternyata itu petir, saya langsung ambil handphone trus videoin. Sempet beberapa kali gagal karena udah videoin lama tapi petirnya engga muncul. Tapi yah namanya orang niat pasti di restui Tuhan (ceile). Akhirnya saya dapet juga tuh video petir. Hehehehe.

    Ada juga nih kejadian. Jadi saya naik wings air waktu perjalanan dari Surabaya ke Jogjakarta. Saya udah liat banget nih sunset bakalan kece. Saya udah siap dengan handphone di tangan dan menunggu posisi yang tepat. Udah tinggal dikit lagi posisinya yang pas banget buat fotoin sunset. Eh ternyata pas udah mau ke posisi yang pas pesawatnya belok dong. Saya refleks ngomong “yahh” kenceng banget sampe orang sebelah saya nengok. Hehehehehe.

    Sunrise 2

    Saya juga suka bantuin fotoin pemandangan kok kalo orang di sebelah saya pengen foto tapi susah. Pernah ada adek-adek mahasiswa gitu pengen foto sunset tapi susah. Akhirnya saya fotoin beberapa frame pake handphone dia. Trus abis itu, pas turun saya liat dia lagi pamer fotonya sama temen-temennya. Hahahahahaha.

    Eh ternyata nih, pernah ada yang nulis bahwa pemilihan tempat duduk di pesawat itu mencerminkan orangnya loh. Tulisannya bisa dilihat disini.

    Jadi, kamu kalau naik pesawat lebih suka duduk di gang, di tengah atau di jendela?. Suka foto-foto juga gak? Ceritain dong.

    Baca juga : Heyho, Manado!